Rabu, 04 Mei 2016

15 Tips Keren Ketika Menghadapi UTS

Kebanyakan, ekspresi mahasiswa jadi suram menjelang minggu ujian akhir semester. Nggak percaya? Lihat saja kepanikan teman-temanmu kalau menjelang UAS, dan tentu saja, perhatikan tempat fotokopian yang bakal penuh mahasiswa fotokopi catatan temannya.

Nah, berikut ini merupakan tips-tips yang sudah teruji untuk belajar dan menghadapi ujian akhir semestermu yang bisa membuat perbedaan besar dalam hasil ujianmu, serta berpengaruh untuk membuat liburanmu menjadi lebih tenang nantinya:


  • Hitung waktu mundur

Banyak mahasiswa ketika mulai memikirkan tentang persiapan sebelum ujian melihat tanggal mulainya ujian, kemudian menghitung waktu mundur. Misalnya, ujian Biologi hari Rabu? Berarti gue perlu belajar kira-kira 2 atau 3 hari. Kayaknya gue kudu belajar mulai hari Minggu. Jauh lebih baik lagi kalau kamu mulai menghitung sejak jauh-jauh hari. Tujuh hari? Kalau gitu gue bagi jadi tujuh mata kuliah dan belajar tiap mata kuliah tiap hari. Kira-kira seperti itu.


  • Tetapkan beberapa komitmen

Kamu bakal nyadar bahwa akan sangat lebih mudah belajar jika meluangkan waktu ekstra untuk belajar. Tunda dulu hal-hal atau sosialisasi yang nggak penting ataupun komitmen keluarga. Dan untuk yang punya pekerjaan paruh waktu, coba jika memungkinkan untuk mengambil 10 hari libur untuk persiapan minggu-minggu ujian akhir, atau kalau nggak boleh, minta pengurangan jam kerja.

Meski hanya beberapa jam, waktu ekstra yang kamu luangkan secara strategis untuk belajar akan membuat perbedaan berarti antara mengerjakan dengan apa adanya saat ujian dan mengerjakan dengan sangat baik.

Rahasianya adalah biasanya akan ada mata kuliah yang dosennya bakal ngasih kamu tugas akhir semester. Kalau bisa menyelesaikan makalah atau tugas akhir semester seminggu sebelum minggu terakhir kelas aktif, hal ini akan memperbanyak waktu tambahan buat belajar persiapan ujian akhir.


  • Bagi waktu belajarmu

Beberapa mahasiswa berpikir mereka harus menggunakan waktu dengan seimbang untuk mempersiapkan setiap mata kuliah yang bakal diujikan. Sebaliknya, bagilah proporsi waktu belajarmu tergantung pada mata kuliah yang mana yang cenderung lebih sulit untukmu, dan mata kuliah mana yang sudah kamu pahami dengan baik. Luangkan waktu lebih untuk mata kuliah yang menurutmu sulit.


  • Cari tahu apa saja yang bakal diujikan

Salah satu hal yang paling penting yang perlu kamu diperjelas adalah materi yang mana saja yang bakal diujian akhir. Apakah membaca atau sesi diskusi termasuk hal yang diujikan, atau ujiannya hanya difokuskan secara eksklusif pada materi kuliah saja?

Apakah ujian akhir berkonsentrasi pada materi setelah ujian tengah semester saja, ataukah materinya yang komprehensif atau kumulatif satu semester? Mengetahui sejauh dan sebatas mana materi ujian yang akan diujikan, tentunya akan mempermudahmu untuk mengorganisir dan menyusun strategi belajarmu.


  • Ketahui tipe soal dosen

Biasanya dalam membuat soal ujian, dosen punya strategi pengujian yang berbeda antara satu dosen dengan dosen lainnya. Ada dosen yang cuma memberimu satu atau dua soal dengan pertanyaan besar yang biasanya jawabannya juga panjang banget.

Ada juga dosen yang membuat pertanyaan singkat yang lebih terfokus, masing-masing soal mencakup setiap bab yang bisa dipelajari dari materi kuliah. Sebelum mulai belajar, pastikan kamu tahu tipe-tipe soal yang biasanya diujikan dosen tersebut seperti apa.


  • Pelajari soal tahun lalu atau yang sering muncul saat di kelas

Di kebanyakan kelas perguruan tinggi, ada banyak sumber yang tersedia yang memberimu informasi tentang apa saja pertanyaan yang akan muncul di ujian akhir. Kadang-kadang, dosen atau asisten dosen akan secara sederhana memberikan petunjuk kecil tentang pertanyaan apa yang baiknya diujikan di ujian akhir nanti.

Tapi di lain waktu, ternyata pertanyaan tersebut ada di tempat terbuka. Panduan pembelajaran, contoh soal tahun sebelumnya yang bisa kamu dapatkan dari senior, atau serangkaian rangkuman pertanyaan yang dibahas di kelas bisa jadi akan mirip banget sama yang diujikan ketika ujian akhir.


  • Belajarlah dengan berkelompok hanya jika menurutmu itu perlu

Banyak mahasiswa salah mengira bahwa sebuah kelompok belajar selalu memiliki banyak manfaat yaitu lebih banyak otak cerdas, ditambah teman-teman yang bisa menjelaskan isi textbook. Hal ini cukup efektif kalau teman belajarmu setidaknya secerdas kamu juga.

Waktu ujian bukanlah waktu beramal, di mana waktumu akan dihabiskan untuk ngajarin temanmu. Iya kalau yang nggak dipahami cuma beberapa, lah kalau dia nggak paham sama sekali gara-gara sering bolos kuliah?


  • Review kuliah dengan dosen atau asisten dosen (asdos)

Salah satu yang sumber informasi terbaik dan seringkali dibeberapa perguruan tinggi hal ini dilakukan, adalah sesi review. Di sesi ini, dosen atau terkadang asdos akan memberimu gambaran tentang ujian akhir.

Beliau-beliau ini tentu saja kemungkinan akan menjumlahkan poin tinggi dalam mata kuliahnya, memberikan contoh pertanyaan dan permasalahan, memberikan tips belajar, atau kadang cuma bercerita atau menjelaskan secara singkat materi secara relevan dalam kuliahnya yang akan diujikan. Sesi review inilah bantuan terbesar dalam belajar untuk menghadapi ujian akhir.


  • Bawa buku catatan kuliahmu saat ujian akhir (jika diperbolehkan)

The power of open book. Inilah semacam surga dunia bagi mahasiswa, yaitu ketika pengawas mengatakan ujian tersebut adalah ujian terbuka. Biasanya di mata kuliah tertentu, kamu memang diperbolehkan untuk membuka catatan.

Ketimbang soal-soal yang penuh tipu muslihat, dosen yang memberikan sistem ujian jenis ini ingin melihat sebaik apa kamu bisa mengekspresikan ide-idemu dan mengingat data. Jadi mulai sekarang, rajinlah mencatat saat kuliah. Pastikan catatanmu berada dalam kondisi prima jika kesempatan ujian open book ini tiba-tiba muncul di ujian akhir.


  • Baca instruksi dan buatlah sebuah rencana

Ketika hari ujian telah tiba dan kamu mendapatkan lembaran ujianmu, periksalah format ujiannya dengan hati-hati. Berapa pertanyaan yang diminta untuk kamu jawab? Apakah ada pilihan ganda? Berapa banyak masing-masing bagian dihitung? Lalu, buatlah rencana (tentatif) sebelum kamu mengerjakan, berapa banyak waktu yang kamu perlukan untuk mengerjakan tiap-tiap soalnya. Kerjakan yang mudah lebih dulu.


  • Tips Bintang 4

Jangan habiskan terlalu banyak waktu untuk menguraikan jawabanmu. Tulis rumus yang sudah dihafal, atau (kalau ada pilihan ganda) mulai sebuah pertanyaan, kalau sulit lewati dulu, pindah ke pertanyaan lain. Kamu dinilai berdasarkan kualitas jawabanmu, bukan catatan atau kesalahan kapan saat mulai menjawab pertanyaan.


  • Pastikan untuk mengembangkan jawaban sepenuhnya

Banyak mahasiswa tidak menyadari bahwa pada ujian esai, bagian yang paling dinilai adalah sebaik mana kamu mengembangkan dan menjelaskan jawabanmu, bukan cuma sebenar apa jawaban itu.

Pertimbangkan untuk menjelaskan poin-poinmu secara lebih detail, sehingga orang lain yang tidak familiar dengan jawabanmu bisa mengerti hanya dari apa yang kamu katakanlah jawabannya.


  • Permudahlah penilai ujian

Dalam banyak mata kuliah, dosen atau orang lain yang bagian mengoreksi dan memberi nilai akan punya sekitar 70 kertas ujian untuk dibaca dalam waktu 2 atau 2 hari, yang mana sekitar 10 hingga 15 menit tiap kertas. Kamu akan lebih mudah mendapat nilai yang baik jika kamu memperjelas pertanyaan yang kamu jawab.

Mulailah menjawab di kalimat paling awal dari esaimu, tampilkan jawabanmu disemua soal-soal berbasis masalah atau study kasus. Dan yang paling penting, menulislah dengan rapi. Dosen terkadang nggak mau repot-repot membaca tulisan jelek. Cukup mencoretnya dengan pena merah.


  • Organisir waktu ujian

2 atau 3 jam adalah waktu yang lama. Coba bayangkan ujian akhir adalah waktu kerja, bagilah ke dalam sejumlah sub-sesi. Ambil beberapa menit istirahat sejenak antara setiap pertanyaan atau beberapa bagian pertanyaan.


  • Jangan panik terlalu cepat

Dalam 3 jam, dihadapkan dengan sejumlah pertanyaan dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda, akan menjadi semacam pasang surut. Entah kamu setelah itu merasa lebih baik, atau lebih buruk tentang bagaimana ujianmu berlangsung.

Abaikan perasaan seperti itu, atau gampangnya kalau ujian sudah selesai, nggak usah repot membahasnya lagi. Kebanyakan tes dirancang untuk memiliki beberapa pertanyaan sulit, dan dalam beberapa hal, evaluasi diri sendiri yang seperti itu seringkali salah.


  • Tetaplah tinggal sampai waktu ujian habis

Emang sih, kadang kelihatan kece kalau ujian sudah selesai lebih dulu daripada temen-temen yang lainnya, dan tidak sedikit mahasiswa yang meninggalkan ruang ujian sebelum ujian berakhir karena sudah selesai duluan. Sebenarnya, hal tersebut sama sekali bukanlah hal yang baik untuk dilakukan, karena selalu ada masalah-masalah yang harus berulang kali diperiksa atau esai yang bisa ditambahkan atau dibuktikan.

Meskipun membuat koreksi kecil di jawabanmu, atau menambahkan poin tambahan ke dalam esai (jangan takut membuat paragraf dibatas margin atau di pojokan atas atau bawah halaman), bisa membuat perbedaan antara nilai yang baik dan tidak terlalu baik.


Nah, itu tadi 15 tips yang bisa kamu ikuti untuk menghadapi ujian akhir. Tentu saja selain belajar keras, diperlukan juga doa. Semoga sukses ujian akhir!



sumber (
http://www.berkuliah.com/2014/10/15-tips-keren-ketika-menghadapi-ujian.html?m=1)

Minggu, 17 April 2016

Sejarah Singkat Perjuangan RA. Kartini Semasa Hidupnya



RA. Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. RA. Kartini dikenal sebagai wanita yang mempelopori kesetaraan derajat antara wanita dan pria di Indonesia. Hal ini dimulai ketika Kartini merasakan banyaknya diskriminasi yang terjadi antara pria dan wanita pada masa itu, dimana beberapa perempuan sama sekali tidak diperbolehkan mengenyam pendidikan. Kartini sendiri mengalami kejadian ini ketika ia tidak diperbolehkan melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi. Kartini sering berkorespondensi dengan teman-temannya di luar negeri, dan akhirnya surat-surat tersebut dikumpulkan oleh Abendanon dan diterbitkan sebagai buku dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Biografi Singkat Kartini
Semasa hidupnya dimulai dengan lahirnya Kartini di keluarga priyayi. Kartini yang memiliki nama panjang Raden Adjeng Kartini ini ialah anak perempuan dari seorang patih yang kemudian diangkat menjadi bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Ibu dari Kartini memiliki nama M.A. Ngasirah, istri pertama dari Sosroningrat yang bekerja sebagai guru agama di salah satu sekolah di Telukawur, Jepara. Silsilah keluarga Kartini dari ayahnya, bisa dilacak terus hingga Sultan Hamengkubuwono IV, dan garis keturunan Sosroningrat sendiri bisa terus ditelusuri hingga pada masa Kerajaan Majapahit.

Sejarah Singkat Perjuangan RA. Kartini Semasa Hidupnya

Ayah Kartini sendiri awalnya hanyalah seorang wedana (sekarang pembantu Bupati) di Mayong. Pada masa itu, pihak kolonial Belanda mewajibkan siapapun yang menjadi bupati harus memiliki bangsawan sebagai istrinya, dan karena M.A. Ngasirah bukanlah seorang bangsawan, ayahnya kemudian menikah lagi dengan Radeng Adjeng Moerjam, wanita yang merupakan keturunan langsung dari Raja Madura. Pernikahan tersebut juga langsung mengangkat kedudukan ayah Kartini menjadi bupati, menggantikan ayah dari R.A. Moerjam, yaitu Tjitrowikromo.

Sejarah perjuangan RA. Kartini semasa hidupnya berawal ketika ia yang berumur 12 tahun dilarang melanjutkan studinya setelah sebelumnya bersekolah di Europese Lagere School (ELS) dimana ia juga belajar bahasa Belanda. Larangan untuk Kartini mengejar cita-cita bersekolahnya muncul dari orang yang paling dekat dengannya, yaitu ayahnya sendiri. Ayahnya bersikeras Kartini harus tinggal di rumah karena usianya sudah mencapai 12 tahun, berarti ia sudah bisa dipingit. Selama masa ia tinggal di rumah, Kartini kecil mulai menulis surat-surat kepada teman korespondensinya yang kebanyakan berasal dari Belanda, dimana ia kemudian mengenal Rosa Abendanon yang sering mendukung apapun yang direncanakan Kartini. Dari Abendanon jugalah Kartini kecil mulai sering membaca buku-buku dan koran Eropa yang menyulut api baru di dalam hati Kartini, yaitu tentang bagaimana wanita-wanita Eropa mampu berpikir sangat maju. Api tersebut menjadi semakin besar karena ia melihat perempuan-perempuan Indonesia ada pada strata sosial yang amat rendah.

Kartini juga mulai banyak membaca De Locomotief, surat kabar dari Semarang yang ada di bawah asuhan Pieter Brooshoof. Kartini juga mendapatkan leestrommel, sebuah paketan majalah yang dikirimkan oleh toko buku kepada langganan mereka yang di dalamnya terdapat majalah-majalah tentang kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Kartini kecil sering juga mengirimkan beberapa tulisan yang kemudian ia kirimkan kepada salah satu majalah wanita Belanda yang ia baca, yaitu De Hollandsche Lelie. Melalui surat-surat yang ia kirimkan, terlihat jelas bahwa Kartini selalu membaca segala hal dengan penuh perhatian sambil terkadang membuat catatan kecil, dan tak jarang juga dalam suratnya Kartini menyebut judul sebuah karangan atau hanya mengutip kalimat-kalimat yang pernah ia baca. Sebelum Kartini menginjak umur 20 tahun, ia sudah membaca buku-buku seperti De Stille Kraacht milik Louis Coperus, Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta yang ditulis Multatuli, hasil buah pemikiran Van Eeden, roman-feminis yang dikarang oleh Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek, dan Die Waffen Nieder yang merupakan roman anti-perang tulisan Berta Von Suttner. Semua buku-buku yang ia baca berbahasa Belanda.

Pada tanggal 12 November 1903, Kartini dipaksa menikah dengan bupati Rembang oleh orangtuanya. Bupati yang bernama K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat ini sebelumnya sudah memiliki istri, namun ternyata suaminya sangat mengerti cita-cita Kartini dan memperbolehkan Kartini membangun sebuah sekolah wanita. Selama pernikahannya, Kartini hanya memiliki satu anak yang diberi nama Soesalit Djojoadhiningrat. Kartini kemudian menghembuskan nafas terakhirnya 4 hari setelah melahirkan anak satu-satunya di usia 25 tahun.

Pemikiran dan Surat-Surat Kartini
Wafatnya Kartini tidak serta-merta mengakhiri perjuangan RA. Kartini semasa hidupnya karena salah satu temannya di Belanda, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan surat-surat yang dulu pernah dikirimkan oleh Kartini kepada teman-temannya di Eropa. Abendanon kemudian membukukan seluruh surat itu dan diberi nama Door Duisternis tot Licht yang jika diartikan secara harfiah berarti “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”. Buku ini diterbitkan pada tahun 1911, dan cetakan terakhir ditambahkan sebuah surat “baru” dari Kartini.

Pemikiran-pemikiran Kartini dalam surat-suratnya tidak pernah bisa dibaca oleh beberapa orang pribumi yang tidak dapat berbahasa Belanda. Baru pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkan versi translasi buku dari Abendanon yang diberi judul “Habis Gelap Terbitlah Terang: Buah Pikiran” dengan bahasa Melayu. Pada tahun 1938, salah satu sastrawan bernama Armijn Pane yang masuk dalam golongan Pujangga Baru menerbitkan versi translasinya sendiri dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Versi milik Pane membagi buku ini dalam lima bab untuk menunjukkan cara berpikir Kartini yang terus berubah. Beberapa translasi dalam bahasa lain juga mulai muncul, dan semua ini dilakukan agar tidak ada yang melupakan sejarah perjuangan RA. Kartini semasa hidupnya itu.

sumber (http://www.portalsejarah.com/sejarah-singkat-perjuangan-ra-kartini-semasa-hidupnya.html)

Rabu, 23 Maret 2016

Kisah Supersemar dan Soekarno ngamuk di Istana Bogor




Di balik kemegahannya, Istana Bogor menyimpan sejarah yang dramatis tentang sebuah perpindahan kekuasaan. Turunnya Surat Perintah 11 Maret atau yang dikenal dengan Supersemar menjadi titik balik berkuasanya Soeharto menggantikan Soekarno. Ada tiga jenderal yang ikut berperan mendalangi turunnya Supersemar. Siapa saja tiga jenderal tersebut? Bagaimana kisah dramatis yang terjadi di Istana Bogor waktu itu?

Hari itu, Jumat tanggal 11 Maret 1966, waktu menunjukkan pukul 13.00 di Istana Bogor. Terdengar deru helikopter mendarat di lapangan istana. Ternyata tiga orang jenderal angkatan darat (AD) datang untuk menemui Soekarno. Ada yang mengatakan mereka datang mengendarai jeep yang dikemudikan oleh Brigjen Muhammad Jusuf yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Perindustrian. Dua jenderal lainnya, yaitu Mayjen Basuki Rachmat (Menteri Veteran dan Demobilisasi) dan Brigjen Amir Mahmud (Panglima Kodam Jaya).

Soekarno sedang istirahat saat trio jenderal datang. Hari itu memang bukan hari yang menggembirakan bagi Soekarno. Tidak seperti biasanya, dia datang ke Istana Bogor lebih awal. Soekarno pergi meninggalkan rapat kabinet di Jakarta menuju Bogor dengan tergesa-gesa. Brigjen Saboer, pengawal dan ajudan kepercayaan Soekarno, melaporkan adanya kericuhan dan pasukan liar mendekati istana. Padahal sebelumnya, Amir Mahmud yang dipercaya untuk mengamankan rapat, melaporkan situasi dalam kondisi aman.

Kejadian tersebut yang memunculkan inisiatif dari Basuki Rachmat dan Jusuf untuk menemui Soekarno di Bogor. Meskipun kedua menteri ini hadir dalam rapat kabinet di Istana Merdeka, tapi mereka tidak tahu menahu mengenai laporan berbeda hingga memunculkan ketegangan antara Saboer dan Amir Mahmud. Sebelum berangkat ke Bogor, trio jenderal sempat menemui Soeharto di Jalan Haji Agus Salim. Waktu itu Soeharto yang telah diangkat Soekarno sebagai Panglima Pemulihan Keamanan dan Ketertiban, sedang dalam kondisi sakit. Soeharto kemudian mengizinkan ketiganya untuk menemui Soekarno dan menitipkan pesan, Saya bersedia memikul tanggungjawab apabila kewenangan untuk itu diberikan kepada saya untuk melaksanakan stabilitas keamanan dan politik berdasarkan Tritura.

Di balik kedatangan tiga jenderal itu ternyata ada maksud lain. Mereka meminta Soekarno agar memberikan kewenangan penuh kepada Soeharto untuk mengamankan kondisi negara. Berdasarkan pengakuan Lettu Sukardjo, pengawal presiden yang berjaga waktu itu, suasana nampak tegang. Antara tiga jenderal dan Soekarno terlibat adu argumen tentang isi surat kewenangan yang akan diberikan kepada Soeharto. Bahkan Sukardjo mengatakan sempat terjadi todong-todongan senjata antara dirinya dan trio jenderal.

Karena berbagai desakan yang muncul, akhirnya Soekarno menandatangani surat kewenangan untuk Soeharto. Surat itu yang kemudian dikenal dengan nama Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) 1966. Berbekal SP 11 Maret, Soeharto setapak melangkah lebih depan menuju kekuasaan. Dia tampil sebagai pahlawan kesaktian Pancasila yang telah membasmi bahaya komunis dari Tanah Air. Maka setahun pasca keluarnya Supersemar, Soeharto mengubah Indonesia dari era Orde Lama menuju era Orde Baru. Tepat pada tanggal 22 Februari 1967, Soekarno menyerahkan nakhoda pemerintahan Indonesia kepada Soeharto.

Setelah runtuhnya kekuasaan Soeharto, banyak yang mengungkap mengenai kisah di balik munculnya Supersemar. Butir-butir di dalam Supersemar ternyata disalahtafsirkan Soeharto sebagai penyerahan wewenang pimpinan pemerintahan. Ada pula yang meragukan mengenai keaslian dari Supersemar yang dipegang Soeharto dengan yang diberikan oleh Soekarno. Salah satu dari trio jenderal itu diduga menyimpan naskah asli Supersemar. Sayangnya, ketiga jenderal tersebut sudah mangkat dan Supersemar yang asli masih menjadi misteri.

Di balik itu semua, Istana Bogor telah menjadi saksi berbagai sejarah yang akan terekam di dinding-dinding bangunan megah itu sepanjang masa. Istana yang seharusnya menjadi pengingat bagi setiap orang yang singgah atau sekadar melihat rusa-rusa cantik di sana. Istana yang dibangun bukan hanya sebagai penghias kota Bogor. Tapi ia sebuah bangunan yang harusnya menyadarkan kita agar jangan pernah melupakan sejarah. Istana Bogor, sebuah istana yang kini dipilih oleh Presiden Jokowi sebagai tempat utama untuk mengatur pemerintahan Indonesia.